the roots of education are bitter, but the fruit is sweet ~aristotle~

Saturday, June 30, 2012

Zinedine Yazid “Zizou” Zidane

Tanggal 23 Juni yang lalu, seorang maestro sepak bola dunia, tepat berulang tahun yang ke 40. Dari judul artikel di atas, pasti teman-teman sudah tau siapa yang saya maksud. Seorang legenda Cannes, Bordeaux, Juventus, Real Madrid, dan pastinya, Prancis. Zidane lahir dari keluarga imigran Aljazair yang pindah ke Prancis. Lahir dari keluarga miskin, namun dengan semangat juang, membawa keluarganya ke derajat yang lebih tinggi.

Zidane memulai karir dari sebuah klub kecil kotanya, untuk memulai sebuah perjalanan karir pemain sepakbola terbaik dalam 50 tahun terakhir ini. Mengawali karir profesional di club Prancis, Cannes, ia langsung menjadi pemain andalan di klubnya, hingga berhasil membawa Cannes duduk di posisi 4 Liga Prancis, posisi tertinggi klub sejak tahun 1948. Ketika Zidane mencetak gol pertamanya untuk Cannes, bonus yang diberikan oleh chairman Cannes adalah sebuah mobil.

image

Empat tahun di Cannes, Zidane pindah ke Bordeaux, juga salah satu tim besar di Prancis. Bersama klub ini Zidane menjadi juara piala Intertoto (Piala UEFA saat ini). Bersama Cristophe Dugarry dan Bixente Lizarazu, Zidane menjadi trademark paling disegani di Prancis disaat itu.

Tahun 1996, Zidane pindah ke Juventus, disinilah kejayaan level dunia di mulai, bersama Alessandro Del Piero, Mauro Camoranesi, Edwin Van Der Sar, Gigi Buffon, Lilian Thuram, Edgar Davids, dan banyak lagi nama besar lainnya. 3 kali final liga Champions Eropa, 3 kali serie-A dan berbagai gelar terhormat di raih Zidane di Juventus. Juga di tim inilah saya pertama kali juga menjadi fans yang namanya sepakbola, dan bagi saya, sepakbola itu,, ya Zidane. Ada nama Sheva (Andriy Shevchenko), Francesco Totti, Cristian Vieri, Luis Ronaldo, Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, tapi Zidane tetap jadi juara.

Tahun 1998, Zidane memenangkan trofi piala dunia bersama Prancis. Dua gol lewat sundulan kepala Zidane, dan satu gol dari Emmanuel Petit mengirim Brazil pulang sebagai runner-up. Sebuah pencapaian puncak yang luar biasa. Tahun 2000, lagi-lagi Zidane berhasil membawa Prancis menjadi juara Eropa, menjadi tim yang berhasil menyamai rekor Jerman 1974. Kurang dengan piala Eropa, Zidane didaulat menjadi pemain terbaik turnamen tersebut.

Tahun 2000 mungkin tahun keemasan bagi Zidane. Di tahun itu, ia di transfer dari Juventus ke Real Madrid dengan harga 75 juta Poundsterling! Tercatat sebagai pemain termahal di dunia, mematahkan rekor transfer Luis Figo, Luis Ronaldo, dan Cristian Vieri. Rekor ini dikemudian hari “diklaim” oleh Barcelona, setelah membeli Zlatan Ibrahimovic dengan 40 juta Pounds plus Samuel Eto’o (yang diklaim 30 juta Pounds). Namun satu yang membuat Madrid masih bisa menyebut Zidane lebih mahal, dibayar dengan tunai :-D.

Rekor ini kemudian malah dipecahkan lagi oleh Real Madrid setelah membawa Cristiano Ronaldo ke Bernabeu dengan 95 juta Pounds. Lebih dari cukup untuk membungkan Cules. Ini hanya bisa dipecahkan jika Barcelona mau melepas Messi ke Manchester City. Hanya saja itu hal yang hampir mustahil.

Kembali ke Zidane, proyek Galactico yang digalang Florentino Perez mendatangkan Figo, Ronaldo, Beckham, Tomas Gravesen, Roberto Carlos, ditambah proyek Madrid seperti Salgado, Hierro, Helguera, dan Raul Gonzalez, menghasilkan trofi Liga Champions tahun 2000 dan 2002. Setelah menjadi juara Eropa tahun 2002, prestasi Madrid berhenti di La Liga, bahkan setelah itu Madrid tak lagi juara.

image

Zidane yang kontraknya habis di 2006, memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dan pensiun di Real Madrid. Keputusan untuk pensiun ini diawali dengan pensiunnya Zidane di timnas pada 2005. Dan inilah awal kisah penutupan karis pesepakbola paling fantastis di dunia, bahkan sampai saat ini.

Zidane pensiun dari timnas Prancis pada 2005, setelah gagal total di Piala dunia 2002 dan Piala Eropa 2004. Namun di sebuah malam, ibarat klenik di budaya Jawa, Zidane ibarat dapat wangsit. Seorang tua menyuruhnya untuk kembali ke timnas. Prancis yang kala itu susah payah sedang berusaha lolos ke Piala Dunia 2006. Zidane mengikuti mimpi tersebut. Ia batal pensiun dan langsung masuk kembali ke training ground Stade de France. Raymond Domenech mendaulatnya menjadi kapten Prancis. Efeknya? Prancis lolos langsung ke Piala Dunia 2006 di Jerman.

Sebuah liukan manis melewati Carles Puyol dan Iker Casillas mengirim Spanyol angkat koper di Second Round. Sebuah assist melalui tendangan bebas mengirim Brazil dan Roberto Carlos yang tua dan kelelahan pulang di perempat-final. Satu tendangan pinalti apik mengirim Portugal dan Pauleta ke semenanjung Iberia. Dan final Piala Dunia lah akhir semuanya.

Piala Dunia 2006, Final. Prancis menghadapi Italia. Italia unggul lebih dulu lewat tandukan Marco Matterazzi memanfaatkan sepak pojok. Zidane membalas lewat penalti chip Zidane. Pertandingan berlangsung dengan hati-hati hingga extra-time. Satu sundulan kepala di awal extratime nyaris mengirim Italia pulang, namun Gigi Buffon menang dari Zidane kali ini. Tak lama, insiden inipun berlangsung. Zidane dengan sengaja menanduk Materazzi. Kartu Merah. Dan fix karir Zidane selesai. Itali menang pinalti, 1-1, 5-3.

Apakah ending career Zidane memalukan? Bagi saya tidak. Zidane menanduk Materazzi karena sebuah alasan. Dan saya rasa alasan Zidane adalah alasan yang paling terhormat yang pernah saya dengar dari seorang atlit. Ketika semua orang berdengung tentang profesionalitas, Zidane menambahkan kata PRINSIP ke dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Zidane mungkin tak mau mengungkapkan apa yang Materazzi ucapkan, tapi investigasi media jelas membaca gerakan bibir Materazzi sebagai hinaan terhadap ibu dan saudara perempuan Zidane.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Materazzi mengulang kata-kata tersebut di depan Zidane.

Zidane meminta maaf kepada dunia, tapi tidak kepada Materazzi. Dia lebih memilih mati. Dan Zidane pun mengaku tak akan bisa hidup jika tidak melakukan tandukan tersebut. Standing ovation dari warga Prancis untuk pemain yang satu ini.

Ketika pemain lain diejek ketika gagal membawa gelar juara, warga Prancis berkumpul di depan hotel para pemain Prancis menginap dan memanggil nama Zidane, hingga dia keluar dengan rasa haru dan air mata yang berlinang.

For France, Cannes, Bordeaux, and Juventus..

Zidane

And Real Madrid…

zinade

 

Thank you, Legend! You’’re the football itself!!

0 tanggapan:

The Author

My photo
God gives you two ears so we can listen not only from one side. There are many perspective, point of view, and argument that can give you insights! Perhaps! Happy reading!
Muhamad Hasan Putra

Perumahan 1. Pt. GPM
Block F. 040
Bandar Mataram, Lampung Tengah
Lampung
34169

muhamad.hasan.putra@gmail.com

FB : Muhamad Hasan Putra

Twitter : @putrahasan