the roots of education are bitter, but the fruit is sweet ~aristotle~

Friday, February 18, 2011

Elegies on Friday, Feb 18, 2011

Hari ini semacam hari yang ingin saya kutuk. Menyebalkan. Tapi buat apa. Tidak berguna. Kata orang lebih baik berusaha mensyukuri apa yang kita punya, ketimbang sibuk mengeluh dan mengutuki hari. Oke. Tuhan, Allah SWT, terima kasih atas apa yang telah Engkau berikan kepada hamba hari ini.

Hari ini ada rencana untuk cek mata saya. Ya, ada sedikit ketidaknyamanan mulai saya rasakan dengan mata saya. Saya pikir tingkat miopi saya (minus) telah bertambah beberapa angka ke atas. Selain karena saya mulai pusing-pusing, juga karena saya mulai buram jika duduk di barisan ke dua kursi kuliah. Ini tragedi. Saya tidak suka duduk di depan, tapi saya juga tidak mau jadi mahasiswa dungu dengan duduk di belakang. Find a way. Check it before late.

Kebetulan, si Saka, teman saya yang blognya bisa anda kunjungi di sini, juga sedang ingin cek mata. Wajar, kemarin dia baru saja dapat dana sumbangan dari IMF untuk mengobati kegalauannya akibat seorang wanita berambut curly. Whatever.

Apa yang mengejutkan saya adalah waktu dia bilang mau cek mata di depan UNY adalah membawa saya ke sebuah optik kacamata. Ternyata bukan. Yang beliau (Mr. Saka) deskripsikan ternyata adalah sekumpulan penjual kacamata emperan (dengan level five feet, say it Kaki Lima).

Well, ternyata oh ternyata. Mata saya dicheck dan anehnya si mas-mas yang jual iseng ngukur ukuran minus lensa saya. Mata saya diperiksa memakai alat yang biasa dipakai optician di seluruh nusantara. Model kacamata dengan peletak khusus yang diselanya bisa disematkan lensa-lensa dengan ukuran berbeda. Tradisional. Optik di Lampung mengukur level minus saya dengan menggunakan mesin khusus. Bukan ragu, tapi ini sekadar level ketepatan yang paling penting.

Kacamata saya diukur dengan menggunakan sebuah alat yang baru pertama saya lihat. Sebuah alat yang mirip mikroskop berukuran sejengkal. Kacamata saya (ini sangat menjengkelkan, saya sarankan anda untuk tidak melakukannya kepada barang milik pelanggan tanpa meminta izin) dijepitnya di tengah alat tersebut dengan sebuah alat penjepit yang saya tak sempat lihat terbuat dari bahan apa *maaf mas, tapi itu kacamata 550 ribu, mak bapak saya banting tulang buat kacamata itu, belum pernah mukanya diseret ke aspal?*, yang pasti saya sangat kesal dengan perlakuan mas-mas itu ke kacamata saya.

Dan lagi, hasil pengukuran mas-mas itu ke kacamata saya, berbeda dengan ingatan saya. Seingat saya, kacamata saya dilengkapi lensa berukuran -2 untuk setiap sisinya. Tapi, mas-mas ini ngetet dan akhirnya melakukan "penganiayaan" terhadap kacamata saya. "yang kiri 0.75 yang kanan 1 mas" katanya. Whatever.

Lanjut dari sana kita ke BarKas. Sebuah toko di anteroan Gejayan yang menyediakan pernak-pernik bekas dan baru. Si Saka mau cari gitar akustik, saya juga niatnya mau cari helm sepeda. Eh si anak satu ini malah ujung-ujungnya ngambil satu action figures yang temanya Superman. Untung tak jadi dibeli. Bagus sih memang.

Kita keluar BarKas tanpa ada satu barangpun terbeli. Khas lelaki.

Kuliah baru akan dimulai setengah 5. Dan percayalah. ini mata kuliah Ekonometrika 1. Dan percayalah dosen saya adalah Pak Bagus Santoso. Dia sendiri meskipun perawakannya menyenangkan, sudah terlihat mengerikan, beliau juga membawa 4 orang tutor. Waw. baru kali ini ada dosen seperduli ini dengan mahasiswanya. Di mata kuliah lain, saya hanya ikut 1 kali asistensi. titik.

Dan percayalah lagi. Ada yang menyebut beliau sebagai MAHAGURU EKONOMETRI. That's it.

I put on a good choice then.

0 tanggapan:

The Author

My photo
God gives you two ears so we can listen not only from one side. There are many perspective, point of view, and argument that can give you insights! Perhaps! Happy reading!

Archive

Muhamad Hasan Putra

Perumahan 1. Pt. GPM
Block F. 040
Bandar Mataram, Lampung Tengah
Lampung
34169

muhamad.hasan.putra@gmail.com

FB : Muhamad Hasan Putra

Twitter : @putrahasan